Saturday, June 25, 2016

Babak 16 Besar: Wales vs Irlandia Utara

Sabtu, 25 Juni, 2016


WALES vs IRLANDIA UTARA

Wales mengawali babak penyisihan grup dengan meyakinkan, menang 2 - 1 atas Slowakia, sementara dua tim lain di Grup B, Inggris dan Russia bermain imbang. Di pertandingan ke dua, Wales kalah 1 - 2 dari Inggris, sehingga Inggris sempat menjadi juara grup sementara. Namun, di pertandingan terakhir, Wales menang telak 3 - 0 atas Russia, sementara Inggris bermain imbang tanpa gol melawan Slowakia. Maka Wales pun lolos sebagai juara grup dengan 6 poin, sementara Inggris harus puas menjadi runners-up dengan perolehan 5 poin saja.

Irlandia Utara lolos ke babak 16 besar sebagai salah satu dari empat tim terbaik di posisi tiga grup. Yang artinya, mereka nyaris saja tidak lolos ke babak 16 besar. Kalah 0 - 1 dari Polandia di pertandingan pertama, Irlandia Utara membayarnya dengan menang 2 - 0 atas Ukraina di pertandingan ke dua. Namun, kekalahan 0 - 1 dari Jerman di pertandingan terakhir, membuat mereka harus puas menduduki posisi ke tiga di grup. Berselang satu hari kemudian, Irlandia Utara memastikan lolos ke babak 16 besar, setelah Turki dipastikan menduduki posisi tiga di Grup D, yang membuat dua tim posisi tiga sudah berada di bawah Irlandia Utara, yaitu Albania dan Turki, dilihat dari selisih gol.

Tampaknya akan berat bagi Irlandia Utara untuk menghadapi Wales. Tapi bagaimanapun, lolos ke babak 16 besar saja sudah merupakan prestasi bagi Irlandia Utara.

:

WALES:
Pelatih: Chris Coleman

Penjaga gawang:
Wayne Hennessey (1), 29 tahun, klub: Crystal Palace
Owain Fôn Williams (12), 29 tahun, klub: Inverness
Danny Ward (21), 23 tahun, klub: Liverpool

Belakang:
Chris Gunter (2), 26 tahun, klub: Reading
Neil Taylor (3), 27 tahun, klub: Swansea
Ben Davies (4), 23 tahun, klub: Tottenham
James Chester (5), 27 tahun, klub: West Brom
Ashley Williams (6), 31 tahun, klub: Swansea
Jazz Richards (15), 25 tahun, klub: Fulham
James Collins (19), 32 tahun, klub: West Ham

Tengah:
Joe Allen (7), 26 tahun, klub: Liverpool
Andy King (8), 27 tahun, klub: Leicester
Aaron Ramsey (10), 25 tahun, klub: Arsenal
David Edwards (14), 30 tahun, klub: Wolves
Joe Ledley (16), 29 tahun, klub: Crystal Palace
Jonathan Williams (20), 22 tahun, klub: Crystal Palace
David Vaughan (22), 33 tahun, klub: Nottingham Forest

Depan:
Hal Robson-Kanu (9), 27 tahun, klub: Reading
Gareth Bale (11), 26 tahun, klub: Real Madrid
George Williams (13), 20 tahun, Fulham
David Cotterill (17), 28 tahun, klub: Birmingham
Sam Vokes (18), 26 tahun, klub: Burnley
Simon Church (23), 27 tahun, klub: ML Dons

:
IRLANDIA UTARA:
Pelatih: Michael O’Neill

Penjaga gawang:
Michael McGovern (1), 31 tahun, klub: Hamilton
Roy Carroll (12), 38 tahun, klub: Linfield
Alan Mannus (23), 34 tahun, klub: Saint Johnstone

Belakang:
Conor McLaughlin (2), 24 tahun, klub: Fleetwood
Gareth McAuley (4), 36 tahun, klub: West Brom
Jonny Evans (5), 28 tahun, klub: West Brom
Chris Baird (6), 34 tahun, klub: Fulham
Luke McCullough (15), 22 tahun, klub: Doncaster
Paddy McNair (17), 27 tahun, klub: Manchester United
Aaron Hughes (18), 36 tahun, klub: Melbourne City
Craig Cathcart (20), 27 tahun, klub: Watford
Lee Hodson (22), 24 tahun, klub: MK Dons

Tengah:
Shane Ferguson (3), 24 tahun, klub: Millwall
Steven Davis (8), 31 tahun, klub: Southampton
Corry Evans (13), 25 tahun, klub: Blackburn
Stuart Dallas (14), 25 tahun, klub: Leeds
Oliver Norwood (16), 25 tahun, klub: Reading
Jamie Ward (19), 30 tahun, klub: Nottingham Forest
Josh Magennis (21), 25 tahun, klub: Kilmarnock

Depan:
Will Grigg (9), 24 tahun, klub: Wigan
Kyle Lafferty (10), 28 tahun, klub: Birmingham
Niall McGinn (7), 28 tahun, klub: Aberdeen

Conor Washington (11), 24 tahun, klub: QPR

Babak 16 Besar: Polandia vs Swiss

Sabtu, 25 Juni, 2016


POLANDIA vs SWISS

Baik Polandia maupun Swiss lolos ke babak 16 besar ini sebagai runners-up di grup masing-masing.

Swiss yang berada di Grup A bersama tuan rumah sekaligus salah satu tim unggulan, Prancis, mengawali babak penyisihan dengan mengalahkan Albania dengan skor tipis 1 - 0. Di pertandingan berikutnya, Swiss ditahan imbang 1 - 1 oleh Rumania. Di pertandingan terakhir, Swiss kembali bermain imbang, kali ini tanpa gol, saat berhadapan dengan tim tuan rumah Prancis. Swiss tetap lolos sebagai runners-up karena sudah mengumpulkan 5 poin, sementara Prancis 7 poin, dan dua tim lainnya, Albania dan Rumania, masing-masing hanya mengumpulkan 3 poin dan 1 poin.

Sama seperti Swiss, Polandia pun berada satu grup dengan salah satu tim unggulan, Jerman. Dan, lagi-lagi sama seperti Swiss, mereka mengawali babak penysihan dengan mengalahkan lawannya, Irlandia Utara, 1 - 0. Masih saja sama seperti Swiss, Polandia pun bermain imbang di pertandingan ke dua mereka, dengan skor 0 - 0 melawan Jerman. Bedanya, di pertandingan terakhir, Polandia berhasil meraih poin penuh dengan mengalahkan Ukraina, lagi-lagi dengan skor tipis, 1 - 0.

Bagaimanapun, keduanya merupakan tim kudahitam yang bisa cukup menyulitkan tim-tim unggulan, dan keduanya sama-sama belum pernah kalah sepanjang babak penyisihan.


POLANDIA:
Pelatih: Adam Nawałka

Penjaga gawang:
Wojciech Szczęsny (1), 26 tahun, klub: Roma
Artur Boruc (12), 36 tahun, klub: Bournemouth
Łukasz Fabiański (22), 31 tahun, klub: Swansea

Belakang:
Michał Pazdan (2), 28 tahun, klub: Legia
Artur Jędrzejczyk (3), 28 tahun, klub: Legia
Thiago Rangel (4), 30 tahun, klub: Palermo
Jakub Wawrzyniak (14), 32 tahun, klub: Lechia
Kamil Glik (15), 28 tahun, klub: Torino
Bartosz Salamon (18), 25 tahun, klub: Cagliari
Łukasz Piszczek (20), 31 tahun, klub: Dortmund

Tengah:
Krzysztof Mączyński (5), 29 tahun, klub: Wisła
Tomasz Jodłowiec (6), 30 tahun, klub: Legia
Karol Linetty (8), 21 tahun, klub: Lech
Grzegorz Krychowiak (10), 26 tahun, klub: Sevilla
Kamil Grosicki (11), 28 tahun, klub: Rennes
Jakub Błaszczykowski (16), 30 tahun, klub: Fiorentina
Sławomir Peszko (17), 31 tahun, klub: Lechia
Piotr Zieliński (19), 22 tahun, klub: Empoli
Bartosz Kapustka (21), 19 tahun, klub: Cracovia
Filip Starzyński (23), 25 tahun, klub: Zagłębie

Depan:
Arkadiusz Milik (7), 22 tahun, klub: Ajax
Robert Lewandowski (9), 27 tahun, klub: Bayern
Mariusz Stępiński (13), 21 tahun, klub: Ruch

:
SWISS:
Pelatih: Vladimir Petković

Penjaga gawang:
Yann Sommer (1), 27 tahun, klub: Mönchengladbach
Marwin Hitz (12), 28 tahun, klub: Augsburg
Roman Bürki (21), 25 tahun, klub: Dortmund

Belakang:
Stephan Lichtsteiner (2), 32 tahun, klub: Juventus
François Moubandje (3), 26 tahun, klub: Toulouse
Nico Elvedi (4), 19 tahun, klub: Mönchengladbach
Steve von Bergen (5), 33 tahun, klub: Young Boys
Michael Lang (6), 25 tahun, klub: Basel
Ricardo Rodríguez (13), 23 tahun, klub: Wolfsburg
Johan Djourou (20), 29 tahun, klub: Hamburg
Fabian Schär (22), 24 tahun, klub: Hoffenheim

Tengah:
Fabian Frei (8), 27 tahun, klub: Mainz
Granit Xhaka (10), 23 tahun, klub: Mönchengladbach
Valon Behrami (11), 31 tahun, klub: Watford
Denis Zakaria (14), 19 tahun, klub: Young Boys
Blerim Džemaili (15), 30 tahun, klub: Genoa
Gelson Fernandes (16), 29 tahun, klub: Rennes
Xherdan Shaqiri (23), 24 tahun, klub: Stoke

Depan:
Breel Embolo (7), 19 tahun, klub: Basel
Haris Seferović (9), 24 tahun, klub: Frankfurt
Shani Tarashaj (17), 21 tahun, klub: Grasshoppers
Admir Mehmedi (18), 25 tahun, klub: Leverkusen

Eren Derdiyok (19), 28 tahun, klub: Kasımpaşa

Friday, June 24, 2016

Copa America Centenario: part 2

lanjutan dari posting sebelumnya, "Copa America Centenario: part 1"

Link: http://sikomentator.blogspot.co.id/2016/06/copa-america-centenario-part-1.html

Yang membuat Copa America lebih menarik dan enak ditonton, adalah permainannya yang lebih terbuka dibandingkan pertandingan-pertandingan di Piala Eropa. Pertandingan-pertandingan Copa America selalu penuh dengan gol. Walaupun tidak semua gol itu secantik gol-gol di Piala Eropa.

Di babak perempat final, tim-tim yang lolos dari Grup A berhadapan dengan tim-tim yang lolos dari Grup B, sementara tim-tim dari Grup C berhadapan dengan tim-tim dari Grup D.

Pertandingan-pertandingan antara tim Grup A dengan tim Grup B masih cukup seimbang. Tuan rumah sekaligus juara Grup A, Amerika Serikat menang tipis 2 – 1 atas runners-up Grup B, Ecuador. Sementara di pertandingan ke dua, juara Grup B, Peru dan runners-up Grup A, Colombia bermain imbang 0 – 0, sehingga akhirnya pemenang harus ditentukan melalui adu penalty. Drama adu penalty tersebut dimenangkan oleh Colombia 4 – 2.

Namun, berbeda dengan pertandingan antara tim-tim Grup A dengan Grup B, tidak ada drama dalam pertandingan perempat final antara tim-tim Grup C dengan Grup D. Dua tim jebolan Grup D, Argentina dan Chile, sama-sama membabat lawannya tanpa ampun. Juara Grup D, Argentina menumbangkan runners-up Grup C, Venezuela dengan skor telak 4 – 1.  Sementara runners-up Grup D, Chile, yang agak lebih mengejutkan, membantai juara Grup C, Mexico dengan 7 gol tanpa balas!

Hasil akhir, kedua tim dari Grup A, Amerika dan Colombia, dan kedua tim dari Grup D, Argentina dan Chile, sama-sama lolos ke semi final. Amerika Serikat berhadapan dengan Argentina, sementara Chile berhadapan dengan Colombia.

Selain Chile yang mereka hadapi di pertandingan pertama mereka di babak penyisihan grup, Argentina belum juga menemukan lawan yang cukup seimbang. Argentina terlalu kuat bagi semua tim yang dihadapinya setelah Chile. Di penyisihan grup, Panama dibantai 5 – 0 dan Bolivia 3 – 0, di perempat final, giliran Venezuela dibantai 4 – 1, dan di semifinal, akhirnya perjalanan tuan rumah Amerika Serikat juga harus berakhir di tangan Argentina. Lagi-lagi Argentina melakukan pembantaian, kali itu dengan skor 4 – 0.

Pertandingan ke dua di babak semifinal adalah Chile berhadapan dengan Colombia. Cuaca buruk benar-benar mengganggu jalannya pertandingan. Sama seperti Argentina, Chile pun belum menemukan lawan yang seimbang selama Copa America, selain Argentina. Dalam 11 menit babak pertama, Chile sudah unggul 2 – 0 atas Colombia.

Menjelang babak ke dua, hujan badai disertai petir dan angin kencang membuat pertandingan babak ke dua terpaksa ditunda. Para pemain harus menunggu sangat lama, tanpa tahu pasti, kapan cuaca akan cukup bersahabat untuk memungkinkan berlangsungnya pertandingan babak ke dua. Setelah dua jam lebih, akhirnya pertandingan kembali dilanjutkan, walaupun kondisi lapangan masih basah dan licin. Tidak terjadi gol di babak ke dua. Chile melaju ke final setelah menang 2 – 0 atas Colombia.

Setelah babak semifinal selesai, dua pertandingan yang tersisa, final dan perebutan juara 3, sama-sama menjadi pertandingan reuni. Juara dan runners-up Grup A, Amerika Serikat dan Colombia, akan kembali bertemu untuk memperebutkan tempat ke tiga. Sementara, juara dan runners-up Grup D, Argentina dan Chile, akan kembali bertemu di final.

Pertandingan perebutan tempat ke tiga antara Amerika Serikat berhadapan dengan Colombia akan digelar pada hari Minggu pagi, tanggal 26 Juni, 2016, jam 7 WIB. Final Copa America akan digelar pada hari berikutnya, Senin, 27 Juni, 2016, jam 7 pagi WIB.


Akankah Chile membuat kejutan dengan mengalahkan Argentina di final nanti?

Copa America Centenario: part 1

Jumat, 24 Juni, 2016


Oke, rehat sejenak dari Piala Eropa 2016.
Gue mau bahas tentang Copa America 2016, yang berlangsung hampir bersamaan dengan Piala Eropa.

Kenapa gue bahas Piala Eropa, tapi nggak bahas soal Copa America 2016?
Karena gue pikir Copa America nggak bakal seru. Kekuatan antar timnya itu terlalu jomplang. Ya udah pasti lah Argentina menang telak dari semuanya. Argentina itu levelnya Eropa!

Nah, Brazil aja sih nih yang gue kecewa banget.
Dari dulu sampe sekarang, gue penggemar fanatik tim samba! Pokoknya, mau tim samba lagi bagus apa jelek, gue nggak peduli! Gue tetep cinta Brazil! Kalo di kerah jersey Brazil ada tulisan “Nascido para jogar futbol” (born to play football), bagi gue, “Nascido para amar Brasil!” (born to love Brazil).
Tapi udah bertahun-tahun nih Brazil terpuruk. Sedih deh. Masa lolos dari babak penyisihan grup aja nggak!?? Gila parah banget emang Brazil!

Selain itu, nggak cuma gue aja, tapi animo masyarakat di Indonesia pada umumnya, yah at least temen-temen di sekitar gue, kurang terhadap Copa America, dibandingkan dengan Piala Eropa. Ya mungkin alasannya sama kaya gue. Pertama, persaingannya kurang greget. Ke dua, jam siaran langsungnya emang nggak masuk akal buat diikutin orang Indonesia.

Kalo Piala Eropa kan enak, (dalam WIB) jam 8 malem, jam 11 malem, sama jam 2 pagi. Sekalian sahur. Kebetulan bulan ini orang-orang muslim juga lagi pada puasa. Nah kalo Copa America kan jadwalnya jam 4 pagi, jam 6 pagi, jam 8 pagi WIB. Yang ada orang-orang lagi pada siap-siap ngantor lah.
So, gue ngerti sih kalo orang-orang cenderung lebih ngikutin Piala Eropa.

Tapi rasanya nggak fair juga kalo nggak bahas apa-apa soal Copa America tahun ini. Karena Copa America tahun ini sebenernya special banget! Special karena merupakan tahun ke-100 sejak pertama kalinya turnamen ini digelar. Karena itu lah namanya ‘Copa America Centenario’.

Dan, walaupun kekuatan antar tim sangatlah timpang, ada beberapa hal menarik yang terjadi sepanjang Copa America ini.

Yang pertama, salut sama tuan rumah, Amerika Serikat, yang sukses menyelenggarakan Copa America tahun ini dengan sempurna! Amerika Serikat, yang notabenenya bukan negara sepakbola! Bukan itu aja, tapi penampilan mereka, sebagai negara yang bukan penggemar sepakbola, sama sekali tidak memalukan!

Ke dua, ternyata peta kekuatan antar tim tidak setimpang itu! Terbukti dengan banyaknya kejutan di babak penyisihan grup. Buktinya Brazil sama Uruguay aja bisa tersingkir! Hahaha (ketawa miris sambil nangis)

Sekarang, sebelum perebutan juara tiga dan final, gue bahas singkat aja jalannya kompetisi Copa America mulai dari babak penyisihan grup sampe semi final kemaren.

Copa America 2016 diikuti 16 peserta, yang terbagi dalam 4 grup, yaitu:
Grup A: Colombia, Amerika Serikat, Costa Rica, Paraguay
Grup B: Brazil, Ecuador, Peru, Haiti
Grup C: Uruguay, Mexico, Venezuela, Jamaika
Grup D: Argentina, Chile, Panama, Bolivia

Grup A:

Amerika mengawali babak penyisihan grup ini sebagai juru kunci, setelah kalah 0 – 1 dari Colombia, sementara dua tim lainnya, Paraguay dan Costa Rica bermain imbang. Namun, di pertandingan ke dua, secara mengejutkan, Amerika membantai Costa Rica dengan 4 gol tanpa balas! Sementara itu, Colombia sang juara grup sementara, memperkuat posisinya dengan mengalahkan Paraguay 2 – 1. Di pertandingan terakhir, ternyata Colombia kalah 2 – 3 dari Costa Rica. Sementara Amerika menang tipis 1 – 0 melawan Paraguay.

Berbeda dengan sistem peringkat di Piala Eropa, yang mengutamakan skor head-to-head antara dua tim yang memiliki poin yang sama, Copa America lebih mengutamakan selisih gol. Dengan begitu, Amerika Serikat, yang awalnya juru kunci, malah lolos ke babak perempat final sebagai juara grup, karena menang selisih gol dari Colombia!


Grup B

Bagaimanapun performa Brazil selama tahun-tahun terakhir, Brazil masih menjadi unggulan dalam setiap turnamen internasional yang diikutinya. Namun, Brazil, yang tidak mengikutsertakan Neymar, Thiago Silva, dan Marcelo ke dalam squad Copa America 2016, gagal memenuhi ekspektasi para penggemarnya.

Di pertandingan pertama, Brazil hanya mampu bermain imbang melawan Ecuador, sementara Peru mengalahkan Haiti 1 – 0. Harapan para penggemar terhadap Brazil tentu kembali melambung saat Brazil membantai Haiti dengan skor 7 – 1 di pertandingan ke dua mereka. Sementara, giliran Peru dan Ecuador yang bermain imbang 2 – 2. Dengan selisih golnya, Brazil menggeser posisi Peru sebagai juara grup.

Namun, di pertandingan terakhir, ternyata Brazil malah kalah tipis 0 – 1 dari Peru! Sementara Ecuador membantai Haiti dengan skor 4 – 0. Brazil pun tersingkir bersama Haiti, tim yang mereka bantai di pertandingan ke dua. Peru melaju sebagai juara grup dengan perolehan 7 poin, dan Ecuador sebagai runners-up dengan 5 poin.


Grup C

Dengan nama-nama top seperti Luis Suarez, Edinson Cavani, dan Diego Godin, tentunya banyak yang memprediksikan Uruguay bakal lolos bersama Mexico ke babak perempat final. Namun, lagi-lagi kejutan terjadi di Grup C.

Di pertandingan pertama mereka, Uruguay kalah 1 – 3 dari Mexico, sementara Venezuela menang 1 – 0 atas Jamaika si anak bawang. Kalah dari Mexico, yang masih sama-sama tim unggulan, masih bisa dimaklumi. Namun, di pertandingan ke dua, Uruguay kembali kalah, kali ini kalah 0 – 1 dari Venezuela. Sementara itu, Mexico menang 2 – 0 atas Jamaika.

Setelah Mexico dan Venezuela sama-sama menang dua kali dan mengumpulkan 6 poin di dua pertandingan pertama, mereka otomatis lolos ke babak perempat final. Uruguay dan Jamaika otomatis tersingkir. Di pertandingan ke tiga, akhirnya Uruguay bisa menang juga, 3 – 0 lawan Jamaika. Tapi hasil pertandingan itu tidak ada artinya bagi Uruguay maupun Jamaika. Sedangkan di pertandingan lain, Mexico dan Venezuela bermain imbang 1 – 1. Mexico yang akhirnya menjadi juara grup karena masih unggul selisih dan jumlah gol.


Grup D

Berbeda dengan tiga grup lainnya, tidak ada drama ataupun kejutan di Grup D. Argentina, yang memang diunggulkan, karena penuh dengan pemain bintang, memenangi tiga dari tiga pertandingan penyisihan grup. Menang 2 – 1 atas tim unggulan lainnya, Chile, membantai Panama 5 – 0, dan Bolivia 3 – 0. Argentina pun lolos dengan mulus sebagai juara grup.

Di bawahnya, tim unggulan lainnya, Chile, lolos sebagai runners-up, setelah mengalahkan dua tim lainnya, dan hanya kalah dari Argentina di pertandingan pertama. Chile menang 2 – 1 atas Bolivia, dan memastikan timnya sebagai runners-up setelah menang 4 – 2 atas Panama di pertandingan terakhir, sementara Bolivia dikalahkan Argentina.

Panama sendiri hanya menang satu kali, saat mengalahkan Bolivia 2 – 1 di pertandingan pertama.
Tidak ada hasil imbang di grup ini. Tidak ada kejutan. Hirarkinya jelas: Bolivia selalu kalah, Panama hanya bisa menang dari Bolivia, Chile hanya kalah dari Argentina, dan Argentina selalu menang.

Dengan demikian, delapan tim yang lolos ke babak perempat final adalah Amerika Serikat, Colombia, Peru, Ecuador, Mexico, Venezuela, Argentina, dan Chile.


Bersambung…

Wednesday, June 22, 2016

Hasil Akhir Babak Penyisihan Grup

Kamis, 23 Juni, 2016

Berakhir sudah babak penyisihan grup Piala Eropa 2016. Grup E menjadi grup terakhir yang menjalankan pertandingan penentu hasil akhir, antara Italia melawan Irlandia, dan Belgia melawan Swedia.

Italia 0 – 1 Irlandia
Robbie Brady 85'

Italia: Sirigu; Bonucci, Ogbonna, Barzagli, Florenzi; Sturaro, Motta, De Sciglio (El Shaarawy, 81'), Bernardeschi (Damian, 60'); Immobile (Insigne, 74'), Zaza
Irlandia: Randolph; Keogh, Duffy, Ward, Coleman; Brady, McCarthy (Hoolahan, 77'), McClean, Hendrick; Long (Quinn, 90'), Murphy (McGeady, 70')

Italia tidak menurunkan pemain-pemain kuncinya saat berhadapan dengan Irlandia di pertandingan terakhir Grup E. Pertandingan ini memang tidak berarti apa-apa bagi Italia. Dua kali mengantungi poin penuh sudah memastikan posisi mereka untuk lolos sebagai juara grup.

Berbeda dengan Irlandia, yang sebelum pertandingan ini, menjadi juru kunci Grup E, dengan perolehan poin yang sama dengan Swedia, namun berbeda selisih gol. Bagi Irlandia, memenangkan pertandingan melawan Italia adalah satu-satunya peluang mereka untuk lolos ke babak 16 besar. Bahkan hasil imbang pun akan melemparkan mereka dari Piala Eropa 2016.

Karena itulah, sepanjang pertandingan Irlandia main ngotot. Namun pemain-pemain muda lapis dua Italia juga tidak kalah ngototnya. Mereka ingin menunjukkan kemampuan terbaik mereka, selagi diberi kesempatan bermain oleh Antonio Conte.

Pertandingan berlangsung sengit antara kedua tim. Namun, sampai menjelang akhir pertandingan, tidak satu gol pun tercipta, baik bagi Italia, maupun Irlandia. Sampai di menit ke-85, sundulan Robbie Brady, menyambut umpan silang Wes Hoolahan, akhirnya membuahkan gol bagi Irlandia. Gol itu merupakan gol tunggal, yang akhirnya mengantarkan Irlandia lolos ke babak 16 besar, sebagai 4 terbaik posisi tiga.

Kebahagiaan sekaligus kelegaan tergambar jelas saat para pemain
Irlandia merayakan gol tunggal mereka ke gawang Italia

:

Swedia 0 – 1 Belgia
Radja Nainggolan 84'

Swedia: Isaksson; Granqvist, Johansson, Olsson, Lindelöf; Kallstrom, Ekdal, Forsberg (Zengin, 82'), Larsson (Durmaz, 63'); Ibrahimovic, Berg (Guidetti, 63')
Belgia: Courtois; Vermaelen, Alderweireld, Vertonghen, Meunier; De Bruyne, Witsel, Nainggolan, Lukaku (Benteke, 87'); Hazard (Origi, 93'), Carrasco (Mertens, 71')

Pertandingan lainnya, Swedia berhadapan dengan Belgia, berlangsung dengan sangat ketat, karena baik Swedia maupun Belgia sama-sama belum aman. Keduanya masih bisa tersingkir kalau sampai kalah di pertandingan penentuan ini. Kekuatan kedua tim seimbang, bahkan penguasaan bola benar-benar merata.

Sama persis seperti pertandingan Italia melawan Irlandia, babak pertama dalam pertandingan Swedia melawan Belgia ini juga tidak menghasilkan satu gol pun. Lebih miripnya lagi, satu-satunya gol yang terjadi di pertandingan ini, terjadi nyaris bersamaan dengan gol yang dicetak Robbie Brady bagi Irlandia. Gol itu dicetak oleh pemain berdarah Indonesia, Radja Nainggolan. Di menit ke-84, Nainggolan yang menerima umpan dari Eden Hazard, sukses menyarangkan bola di gawang Isaksson. Gol itu membawa Belgia unggul 1 - 0.

Radja Nainggolan, pahlawan penyelamat Belgia

Kedudukan 1 - 0 itu bertahan sampai pertandingan berakhir. Belgia pun merayakan lolosnya mereka ke babak 16 besar sebagai runners-up grup E. Perolehan poin mereka sebenarnya sama-sama 6 dengan Italia. Namun, karena secara head-to-head Belgia kalah, maka Italia lah yang menjadi juara grup.



Dengan hasil ini, tidak saja Belgia dan Irlandia memastikan tim mereka lolos ke babak 16 besar, namun juga menyingkirkan Turki dari kompetisi. Di babak 16 besar, Italia akan berhadapan dengan Spanyol, Belgia akan berhadapan dengan Hungaria, dan Irlandia akan berhadapan dengan Prancis.

Berikut adalah bagan turnamen dari 16 besar sampai ke final:

Daftar pencetak gol:
3 – Gareth Bale (Wales), Alvaro Morata (Spanyol)
2 – Dimitri Payet (Prancis), Romelu Lukaku (Belgia), Ivan Perisic (Kroasia) , Nani, Cristiano Ronaldo (Portugal), Balazs Dzsudzsak (Hungaria)
1 – Olivier Giroud, Antoine Griezmann (Prancis), Nicolai Stanciu, Bogdan Stancu (Rumania), Fabian Schar, Admir Mehmedi (Swiss), Hal Robson-Kanu, Aaron Ramsey, Neil Taylor (Wales), Ondrej Duda, Vladimir Weiss, Marek Hamsik (Slowakia), Eric Dier, James Vardy, Daniel Sturridge (Inggris), Vasili Berezutski, Denis Glushakov (Russia), Luka Modric, Ivan Rakitic, Nikola Kalinic (Kroasia), Arkadiusz Milik, Jakub Blaszczykowski (Polandia), Shkodran Mustafi, Bastian Schweinsteiger, Mario Gomez (Jerman), Gerrard Pique, Nolito (Spanyol), Wes Hoolahan, Robbie Brady (Irlandia), Emanuele Giaccherini, Graziano Pelle, Eder (Italia), Adam Szalai, Zoltan Stieber, Zoltan Gera (Hungaria), Birkir Bjarnason, Gylfi Sigurdsson, Jon Dadi Bodvarsson, Arnor Traustason (Islandia), Gareth McAuley, Niall McGinn (Irlandia Utara), Milan Skoda, Tomas Necid (Rep. Ceko), Axel Witsel, Radja Nainggolan (Belgia), Armando Sadiku (Albania), Burak Yilmaz, Ozan Tufan (Turki), Alessandro Schopf (Austria)

Daftar negara pencetak gol:
6 – Wales, Hungaria
5 – Kroasia, Spanyol
4 – Prancis, Portugal, Islandia, Belgia
3 – Inggris, Slowakia, Jerman, Italia
2 – Swiss, Rumania, Russia, Polandia, Irlandia Utara, Turki, Rep. Ceko, Irlandia
1 – Albania, Swedia, Austria
0 – Ukraina

Jumlah kemasukan gol:
0 – Jerman, Polandia
1 – Prancis, Swiss, Italia
2 – Inggris, Irlandia Utara, Spanyol, Belgia
3 – Albania, Wales, Slowakia, Kroasia, Islandia, Swedia
4 – Rumania, Turki, Irlandia, Hungaria, Portugal, Austria
5 – Ukraina, Rep. Ceko
6 – Russia

Top skorer sementara: Gareth Bale (Wales), Alvaro Morata (Spanyol), 3 gol
Tim terbanyak mencetak gol di babak penyisihan grup: Wales dan Hungaria, 6 gol
Tim yang sama sekali tidak mencetak gol di babak penyisihan grup: Ukraina
Tim terbanyak kebobolan selama babak penyisihan grup: Russia, 6 gol
Tim yang belum pernah kebobolan sama sekali selama babak penyisihan grup: Jerman dan Polandia


Turki Masih Punya Peluang untuk Lolos 16 Besar

Kamis, 23 Juni, 2016

Dengan hasil seri yang diraih Portugal saat berhadapan dengan Hungaria di pertandingan terakhir babak penyisihan Grup F, kandas sudah peluang Albania untuk lolos ke babak 16 besar. Portugal, yang lolos sebagai posisi tiga Grup F, sama-sama mengantungi nilai 3 poin seperti Albania dan Turki, namun Portugal unggul dari segi selisih dan jumlah gol.

Albania sudah dipastikan tersingkir. Namun Turki masih punya harapan.

Klasemen sementara


(fokus ke posisi tiga, juara dan runners-up otomatis lolos, posisi 4 pasti tersingkir, jadi tidak perlu ditulis)
Peluang:
1. Italia 9, Belgia 6, Swedia 1, Irlandia 1: Turki lolos, Swedia tersingkir
2. Italia 7, Belgia 6, Irlandia 2, Swedia 1: Turki lolos, Irlandia tersingkir
3. Italia 6, Belgia 6, Irlandia 4, Swedia 1: Irlandia lolos, Turki tersingkir
4. Italia 9, Belgia 4, Swedia 2, Irlandia 1: Turki lolos, Swedia tersingkir
5. Italia 7, Belgia 4, Swedia 2, Irlandia 2: Turki lolos, Swedia tersingkir
6. Italia 6, Belgia 4, Irlandia 4, Swedia 2: Irlandia lolos, Turki tersingkir
7. Italia 9, Swedia 4, Belgia 3, Irlandia 1: Belgia dan Turki adu selisih/jumlah gol
8. Italia 7, Swedia 4, Belgia 3, Irlandia 2: Belgia dan Turki adu selisih/jumlah gol
9. Italia 6, Irlandia 4, Swedia 4, Belgia 3: Swedia lolos, Turki tersingkir